skip to Main Content

Peran Padang Lamun sebagai Penyerap Karbon

Beberapa tahun terakhir ini sering terdengar istilah “Blue Carbon” atau karbon biru. istilah karbon biru pada awalnya diperkenalkan oleh UNEP, FAO dan UNESCO pada tahun 2009. Hal tersebut didorong dengan meningkatnya suhu permukaan bumi atau pemanasan global yang diakibatkan oleh banyaknya emisi gas rumah kaca salah satunya karbondioksida (CO2). Karbon biru merupakan salah satu upaya yang dikembangkan untuk dapat mengurangi karbondioksida yang terdapat di atmosfer. Pengertian dari karbon biru sendiri berdasarkan Röhr et al. (2016), yaitu ekosistem pesisir (rawa asin, hutan mangrove, dan padang lamun) yang memiliki kemampuan menyerap karbon dan disimpan dalam bentuk biomassa.

Kesadaran mengenai pentingnya padang lamun juga mulai berkembang seiring dengan fungsinya sebagai karbon biru atau penyerap karbon. Lamun yang merupakan tumbuhan sejati akan melakukan fotosintesis dimana salah satu bahan yang dibutuhkannya yaitu karbondioksida yang berasal dari atmosfer. Proses fotosintesis akan mengubah karbon
anorganik ke dalam bentuk karbon organik. Karbon organik tersebut kemudian diakumulasi ke dalam bentuk biomassa seperti daun, akar, rhizoma dan sebagian disimpan ke dalam sedimen. Karbon yang disimpan tersebut mampu disimpan oleh padang lamun hingga ribuan
tahun. Oleh karena itu, padang lamun mampu menyimpan karbon sebanyak 83.000 metrik ton/km2 dimana jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan penyimpanan karbon yang dapat dilakukan oleh hutan di darat yaitu 30.000 metrik ton/km2 (Fifianingrum et al., 2020).
Meskipun luas area padang lamun di dunia hanya 0,1 – 0,2%, tetapi padang lamun menyimpan karbon sebesar 18% (Gullström et al., 2017).

Pada saat ini keberadaan padang lamun semakin berkurang akibat beberapa faktor, contohnya disebabkan oleh peningkatan suhu di perairan. meningkatnya suhu perairan yang tinggi hingga tidak dapat ditoleransi oleh lamun dapat menyebabkan luasan area padang lamun akan terdegradasi. Berdasarkan Oreska et al. (2017), adanya degradasi padang lamun dapat menyebabkan 0,05 -0,33 Pg CO2 lepas ke atmosfer setiap tahunnya. Hal tersebut dapat dicegah dengan melakukan beberapa upaya konservasi padang lamun, misalnya dengan cara restorasi dan rehabilitasi.

Daftar Pustaka

Fifianingrum, K. P. N. D., H. Endrawati dan I. Riniatsih. 2020. Simpanan Karbon pada Ekosistem Lamun di Perairan Alang – Alang dan Perairan Pancuran Karimunjawa, Jawa Tengah. Journal of Marine Research, 9(3) : 289-295. DOI : 10.14710/jmr.v9i3.27558

Gullström, M. et al. 2017. Blue Carbon Storage in Tropical Seagrass Meadows Relates to Carbonate Stock Dynamics, Plant–Sediment Processes, and Landscape Context: Insights from the Western Indian Ocean. Ecosystems: 21: 551–566. https://doi.org/10.1007/s10021-017-0170-8

Oreska, M. P. J., K. J. McGlathery dan J. H. Porter. 2017. Seagrass blue carbon spatial patterns at the meadow-scale. PLOS ONE, 12(4):1-18. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0176630

Röhr, M. E., C. Boström, P. Canal-Vergés, dan M. Holme. 2016. Blue Carbon Stocks in Baltic Sea Eelgrass (Zostera marina) Meadows. Biogeosciences, 13 :6139–6153. doi:10.5194/bg-13-6139-2016

Tinggalkan Balasan