skip to Main Content
Indeks Kesehatan Lamun Di Indonesia

Indeks Kesehatan Lamun di Indonesia

Lamun merupakan ekosistem penting yang tersebar hampir di seluruh Indonesia dikarenakan peranannya yang berpengaruh pada kelangsungan kehidupan di bumi. Salah satu peranannya yang penting yaitu sebagai penyerap karbon di mana krisis karbon pada saat ini merupakan permasalahan serius. Kemampuan lamun sendiri dalam menyerap karbon yaitu hingga C/ha/y. Sehingga, untuk menjaga serta melindungi kehidupan lamun agar tetap lestari yaitu dengan melakukan beberapa tindakan seperti konservasi dan restorasi. Akan tetapi, sebelum melakukan tindakan-tindakan tersebut maka perlu diketahui kondisi lamun pada suatu perairan atau biasa juga disebut dengan indeks kesehatan lamun. Begitu pula kondisi lamun yang terdapat di perairan Indonesia.

Gambar 1. Lamun dengan Kualitas Perairan Baik.
(Sumber : Zurba, 2018).

Indonesia terdiri atas perairan luas, di mana luasnya melebihi daratan dengan keragaman hayatinya yang banyak seperti halnya lamun. Luas padang lamun di Indonesia memiliki luasan terbesar di asia tenggara bahkan memiliki potensi menjadi padang lamun yang terluas di dunia. Secara umum, kondisi lamun di dunia mengalami penurunan yang sejalan dengan meningkatnya ancaman antropogenik.  Hal tersebut relevan dengan Indonesia yang hampir 90% penduduknya tinggal di pesisir pantai di mana dapat berpengaruh pada kondisi lamun. Kepadatan manusia yang tinggi tersebut menimbulkan beberapa kegiatan pula seperti perikanan, penambangan pasir, pembangunan, hingga budidaya perikanan yang mampu mengubah ketersediaan jasa dari ekosistem lamun. Penentuan kondisi lamun dengan pemantauan mampu mendeteksi secara dini sebagai acuan dalam melakukan pengelolaan yang tepat. Terdapat 5 parameter yang menjadi dasar dalam penilaian kondisi lamun di Indonesia antara lain kekayaan spesies lamun, tutupan lamun, transparansi air, tutupan epifit, dan tutupan makroalga.

Pertama, kekayaan spesies lamun yang mana apabila keanekaragaman dari lamun semakin tinggi maka lebih mampu menjaga fungsi ekosistemnya ketika dalam periode stress. Perairan Indonesia mampu menjadi tempat 13 spesies lamun di mana hasil dari penelitian para ahli yang dilakukan pada beberapa lokasi menunjukkan bahwa kepadatan lamun yang paling sering ditemukan adalah Enhalus acoroide dan Thalassia hemprichii. Kedua, terdapat tutupan lamun sebagai fitur ketahanan lamun dengan nilai 0-100 %. Adapun lamun di Indonesia memiliki rata-rata yang beragam yaitu dari 19-65 % dengan nilai tutupan lamun di Indonesia bagian barat yang lebih tinggi (45 +/- 4%) dibandingkan dengan Indonesia bagian timur (31 +/- 4%). Perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan oleh kepadatan serta kegiatan penduduk pada masing-masing daerah. Ketiga, transparansi air, yang mana merupakan salah satu faktor sebagai penentu ketahanan lamun yaitu digunakan untuk fotosintesis. Transparansi air sebagai parameter kondisi lamun dibedakan menjadi tiga yaitu jernih, sedang, dan keruh. Pada penelitian yang dilakukan para ahli mendapatkan hasil yang tidak berbeda secara signifikan antara perairan Indonesia bagian barat dan timur di mana diperoleh hasil air yang jernih dengan variasi kecil di setiap lokasi. Akan tetapi, terdapat pula beberapa lokasi yang memiliki kualitas air keruh seperti halnya di perairan Mentawai dan Kendari. Keempat, tutupan epifit yang mampu menjadi ancaman bagi pertumbuhan lamun dengan kisaran nilai dari 3-68%. Sumber epifit dapat berasal dari polusi nutrisi, limbah, hingga penangkapan ikan sebagai pemangsa epifit yang menyebabkan lamun tidak terkontrol. Pada perairan Indonesia menunjukkan hasil yang berbeda yaitu Indonesia bagian timur memiliki tutupan epifit sekitar 17 +/- 4% sedangkan pada bagian barat sekitar 28 +/- 8,1%. Kelima, tutupan makroalga, apabila pertumbuhannya meningkat maka mengancam lamun dikarenakan mampu menutup permukaan air sehingga cahaya sulit masuk ke dalam perairan maka fotosintesis lamun terganggu. Kisaran nilai bagi tutupan makroalga yaitu 0-100% sedangkan pada perairan Indonesia memiliki tutupan makroalga yang bervariasi dari 0,5-31% dengan Indonesia bagian barat sebesar 13% sedangkan timur sebesar 8%. Kemudian, terdapat nilai SEQI atau indeks kualitas ekologi lamun dengan nilai 0-100% yang dibagi menjadi buruk, miskin, sedang, bagus, dan bagus sekali. Sedangkan, kondisi lamun perairan Indonesia sendiri tergolong dalam kategori sedang dengan nilai 0,68 +/- 0,002. Sehingga, dengan nilai yang didapat maka kedepannya dapat ditargetkan perencanaan tindakan konservasi dan restorasi untuk menjaga kelestariannya.

Gambar 2. Kondisi Lamun di Beberapa Wilayah di Indonesia
(Sumber: Hernawan et al., 2021).

Referensi :

Hernawan, U. E., S. Rahmawati, A. Rohani, N. D. M. Sjafrie, Hadiyanto, D. S. Yusup, A. H. Nugraha, Y. A. L. Nafie, W. Adi, B. Prayudha, A. Irawan, Y. P. Rahayu, E. Ningsih, I. Riniatsih, O. H. Supriyadi, and K. McMahon. 2021. The First            Nation-wide Assessment Identifies Valuable Blue-Carbon Seagrass Habitat in Indonesia is in Moderate Condition. Science of the Total Environment., 782:2-11.

Zurba, N. 2018. Pengenalan Padang Lamun, Suatu Ekosistem yang Terlupakan.    Unimal Press, Lhokseumawe, 114 hlm.

Tinggalkan Balasan