skip to Main Content
Lamun Di Kedalaman 40 Meter

Lamun Di Kedalaman 40 Meter

Lamun adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang memiliki rhizoma, daun dan akar sejati yang hidup terendam dalam laut. Umumnya membentuk padang luas di dasar laut dangkal dan jernih dengan sirkulasi air yang baik untuk menghantarkan zat-zat hara, oksigen terlarut, dan mengangkut hasil metabolisme ke luar daerah padang lamun (Bengen, 2001; Nontji, 2005; Supriharyono, 2007). Lamun dapat tumbuh secara luas berupa hamparan vegetasi lamun yang menutupi suatu perairan pantai berupa satu jenis lamun (monospecific) atau lebih (multispecific) dengan kerapatan vegetasi yang padat atau jarang (Azkab, 2006). Di Indonesia padang lamun merupakan ekosistem yang umum ditemukan tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut, habitatnya dapat berupa lumpur, pasir dan karang mati (Hutomo dkk, 1992).

Faktor yang mempengaruhi lamun di kedalaman adalah substrat, penetrasi cahaya, kejernihan. Apabila lautnya jernih cahaya akan lebih mudah masuk. Hanya beberapa jenis lamun yang dapat hidup di kedalaman 40 meter, karena setiap jenis lamun memiliki cara adaptasi yang berbeda-beda. Biasanya lamun yang dapat hidup di kedalaman 40 meter yaitu Enhalus accoroides dan Thalasia hemprichii. Ditemukannya vegetasi monospesifik berupa Enhalus acoroides diduga karena sepsies ini mampu secara luas mentolerir berbagai parameter lingkungan pembatas, sehingga dapat tumbuh pada perairan terbilang cukup ekstrim seperti di lokasi Waiheru. Hal yang sama dijumpai pada perairan pantai pulau Lae-lae yang didominasi vegatasi monospesifik Enhalus acoroides (La Nafie & Arifin, 2003).

Lamun hidup pada berbagai tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar terdiri dari 40% endapan lumpur halus. Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai atau goba yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil dan patahan karang dengan kedalaman 4 meter. Dalam perairan yang sangat jernih, beberapa jenis lamun bahkan ditemukan tumbuh sampai kedalaman 8-15 meter dan 40 meter (Abubakar dan Achmad, 2013). Menurut Fortes (1990), vegetasi lamun dapat beradaptasi dengan lingkungan melalui 3 strategi, yaitu ; (1) adaptasi morfologis karena bersifat fleksibel, variasi batang dan daun, sistem perakaran dan rimpang yang menyebar, (2) adaptasi fisiologis, dan (3) adaptasi tingkah laku, yang dengan variasi stenobiotik dan eurobiotik terhadap pengaruh lingkungan. Vegetasi lamun yang mampu mengembangkan strategi adaptasi ini akan mampu bertahan hidup dan berkembang dengan baik.

Secara umum fungsi lamun di kedalaman dan di daerah dangkal hamper sama, yaitu sebagai feeding ground, nursery ground, dan spawning ground. Namun yang membedakan sedikit adalah apabila di kedalaman fungsi lamun lebih kepada nutrient trap yaitu menangkap karbon lalu fotosintesis dan bermanfaat secara ekologis. Lamun biasanya hidup pada suhu antara 20 – 300 C. Lamun juga peka terhadap suhu, sedangkan di laut dalam suhunya dingin. Tiap spesies lamun memiliki cara adaptasinya masing-masing, suhu tinggi dan salinitas tinggi, jika lamun masih toleran dia dapat hidup di tempat tersebut. Lamun butuh suhu yang tepat untuk hidup, tiap spesies menyesuaikan perubahan suhu dan tekanan dan lamun mempunyai cara adaptasi morfologi tertentu di laut dalam. Reproduksi lamun di kedalaman dan di daerah dangkal adalah sama, dapat dilakukan secara seksual melalui penyerbukan ataupun aseksual dengan rhizome dan bantuan arus. Reproduksinya yang membedakan mungkin kecepatannya, karena di laut dalam cahaya yang masuk sedikit dan suhunya lebih dingin sehingga dapat memperlambat proses reproduksinya.

Teknik sampling lamun di kedalaman 40 meter dapat dilakukan menggunakan peralatan scuba sambil menyelam. Teknik menyelamnya pun tidak asal-asalan, karena menyelam di kedalaman 40 meter harus berhati-hati karena sangat beresiko apabila yang menyelam bukan ahlinya. Pengukuran karbon di laut dalam dan di intertidal dapat dilakukan dengan menggunakan sediment coring di 10-30cm, dihitung dr kedalaman 50-100cm lalu didapatkan karbon yang banyak. Bisa juga menggunakan metode pengambilan sedimen. Selain itu juga dapat menggunakan applikasi penginderaan jauh.

Dugong makan lamun di daerah laut dangkal tetapi tidak di laut dalam, karena dugong makannya langsung banyak sebanyak 60kg lamun, kalau di laut dalam lebih banyak air dan dugong tidak suka Enhalus dan Thalasia. Contoh lamun yang biasa dikonsumsi oleh dugong yaitu Cymodocea rotundata dan Cymodocea serrulata,  karena dugong adalah hewan yang pemilih ketika makan. Dan dugong termasuk mamalia ke atas sekalian mengambil nafas.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lamun mati di laut dalam, diantaranya sebagai berikut :

1. kapal selam melewati lamun

2. Perubahan suhu secara mendadak

3. Arus yang besar

Tinggalkan Balasan