skip to Main Content
Keterkaitan Antara Echinodermata Dengan Ekosistem Lamun

Keterkaitan Antara Echinodermata dengan Ekosistem Lamun

Gambar 1. Teripang pada Ekosistem Lamun,
(Sumber : Suryanti dan Ain, 2013).

Pada dasarnya ekosistem lamun merupakan hamparan lamun yang memiliki peranan penting di perairan yaitu sebagai tempat mengasuh, tempat mencari makan, dan tempat berkembang biak berbagai biota. Sehingga, pada ekosistem lamun banyak ditemukan biota yang berasosiasi seperti halnya Echinodermata, Arthropoda, Mollusca, dugong hingga penyu. Echinodermata merupakan salah satu biota yang banyak di temukan di perairan ekosistem lamun. Echinodermata sendiri menurut Jalaluddin dan Ardeslan (2017) berasal dari kata echinus yang berarti duri dan derma berarti kulit. Sehingga Echinodermata dapat berarti hewan dengan kulit berduri atau pun berbintil yang termasuk dalam invertebrata. Filum dari Echinodermata ini memiliki 5 kelas yaitu bintang laut (Asteroidea), lilia laut (Crinoidea), bintang ular (Ophiuroidea), teripang (Holothuria), dan bintang ular (Asteroidea). Jenis-jenis dari Echinodermata tersebut juga dikenal berperan penting pada ekosistem laut seperti sebagai pembersih lingkungan, sebagai bioindikator kualitas perairan, pemakan sampah organik, dan sebagai komponen rantai makanan.

                Begitu pula hubungan Echinodermata dengan ekosistem lamun yang keduanya memiliki hubungan timbal balik menguntungkan. Menurut Yunita et al. (2020), Echinodermata yang hidup di padang lamun menjadikannya sebagai tempat untuk hidup, berlindung, dan mencari makan. Sedangkan, Echinodermata dapat berperan dalam mendaur ulang nutrient yang terdapat di ekosistem lamun yaitu memakan detritus dengan cara merombak bahan-bahan organik yang sudah tidak terpakai dan buangan sampah-sampah organik yang berasal dari berbagai aktivitas manusia dari daratan. Sehingga peranan tersebut mampu berfungsi dalam menjaga kebersihan lingkungan perairan untuk keberlangsungan hidup ekosistem lamun. Beberapa contoh tersebut yaitu bulu babi pada yang hidup di ekosistem lamun memanfaatkan bahan organik pada sedimen atau substrat sebagai makanannya. Kemudian, berdasarkan penjelasan Nybakken (1992) bulu babi dikenal sebagai spesies pengontrol pertumbuhan populasi makroalga yang dapat mencegah terjadinya eutrofikasi pada ekosistem lamun dengan cara grazing dikarenakan sifatnya yang herbivora. Hal tersebut dikarenakan perkembangan makroalga yang meledak dapat menutupi permukaan air di mana dapat menghalangi cahaya matahari sebagai salah satu komponen penting dalam fotosintesis lamun sebagai penunjang kelangsungan hidupnya. Kemudian, terdapat pula teripang yang memanfaatkan detritus pada pada lamun sebagai sumber makanan pada substrat. Teripang melakukannya dengan memakan detritus serta substrat seperti pasir yang kemudian dikeluarkan lagi melalui anus sehingga lingkungan perairan ekosistem lamun dapat bersih.

Daftar Pustaka :

Jalaluddin dan Ardeslan. 2017. Identifikasi dan Klasifikasi Phylum Echinodermata di       Perairan Laut Desa             Sembilan Kecamatan Simeulue Barat Kabupaten Simeulue. Jurnal Biology Education., 6(1): 81- 97.

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia, Jakarta, 459 hlm.

Suryanti dan C. Ain. 2013. Kelimpahan Bulu Babi (Sea Urchin) pada Substrat yang Berbeda di Legon Boyo, Karimunjawa, Jepara. Prosiding Seminar Tahunan ke III Hasil-Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Vol.4, November 2013 : 165-172.

Yunita, R. R., Suryanti dan N. Latifah. 2020. Biodiversitas Echinodermata pada  Ekosistem Lamun di Perairan Pulau Karimunjawa, Jepara. Jurnal Kelautan Tropis., 23(1): 47-56

Tinggalkan Balasan