skip to Main Content
Potensi Ekosistem Lamun Sebagai Bioindikator Lingkungan Perairan

Potensi Ekosistem Lamun sebagai Bioindikator Lingkungan Perairan

Gambar 1. Ekosistem Lamun pada Substrat Berpasir.
(Sumber : Rustam et al., 2015).

Menurut Hutomo dan Nontji (2014) lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup terbenam di perairan. Lamun sebagai vegetasi perairan sudah diketahui banyak memiliki manfaat baik bagi biota dan lingkungan sekitarnya. Ekosistem ini memiliki peranan penting sebagai penstabil sedimen, tempat hidup berbagai biota, hingga sebagai produsen primer. Peran lamun sebagai produsen primer merupakan tumbuhan yang paling produktif di bumi di mana mampu memiliki produksi primer yang bersih sebanyak dua kali lebih besar dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh hutan terestrial. Ekosistem lamun banyak dijumpai di lingkungan perairan di wilayah pesisir seperti estuaria dan laut dangkal yang tersebar hampir di seluruh dunia. Hidup lamun di wilayah pesisir menjadikan kondisi ekosistem tersebut rentan terhadap dampak yang dapat membahayakan kelangsungan hidup biota di perairan di mana berasal dari berbagai aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Kegiatan tersebut antara lain pembangunan infrastruktur, akuakultur, pengerukan, hingga kegiatan pencarian ikan oleh pra nelayan yang mana mampu memberikan dampak secara tidak langsung bagi perubahan iklim seperti naiknya permukaan air laut hingga membentuk badai di perairan.

Perubahan kualitas perairan di wilayah pesisir tersebut dapat diidentifikasikan melalui suatu bioindikator yang memiliki sifat kesensitivan terhadap kualitas lingkungan. Bioindikator tersebut digunakan untuk mengetahui penyebab atau gangguan terhadap adanya perubahan kualitas perairan. Ekosistem lamun merupakan salah satu bioindikator di wilayah perairan di mana hal tersebut dikarenakan lamun memiliki interaksi yang kompleks dengan lingkungan di sekitar. Interaksi keduanya tersebut mampu menghasilkan respon yang berbeda-beda di setiap gangguan. Logam berat merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan perubahan kualitas perairan. Logam berat di perairan dapat diindikasikan oleh ekosistem lamun yang lamun berperan sebagai salah satu bioindikator terhadap kandungan logam berat di perairan dengan mempengaruhi bioavaiabilitas logam berat di sedimen. Logam berat di perairan dapat diserap oleh lamun pada 2 bagian yaitu melalui kolom air yang diserap daun daun melalui sedimen oleh akar serta rimpang. Logam berat yang diserap tersebut kemudian di translokasikan dari bagian bawah lamun menuju atas serta sebaliknya. Beberapa logam berat dibutuhkan oleh lamun untuk proses metabolik seperti Cu,Mn yang diakumulasikan di daun serta Pb,Cd di bagian akar dan rimpang (Listiawati, 2018).

Kemudian, ekosistem lamun juga dapat dijadikan sebagai bioindikator terhadap pencemaran perairan lainnya seperti pencemaran limbah. Ekosistem lamun akan mengalami perubahan seperti halnya daun-daun dipenuhi epifit serta alga yang dapat menghambat fotosintesis lamun (Rustam et al., 2015).

Daftar Pustaka :

Hutomo, M dan A. Nontji. 2014. Panduan Monitoring Padang Lamun. COREMAP CTI LIPI, Jakarta, 37 hlm.

Listiawati, V. 2018. Peran Lamun sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Pesisir. Proceeding Biology Education Conference., 15(1): 750-754.

Rustam, A., T. L. Kepel. M. A. Kusumaningtyas, R. N. A. Ati, A. Daulat, D. D. Suryono, N. Sudirman, Y. P. Rahayu, P. Mangidaan, A. Heriati dan A. A. Hutahean. 2015. Ekosistem Lamun sebagai Bioindikator Lingkungan di P. Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara.Jurnal Biologi Indonesia., 11(2): 233-241.

Tinggalkan Balasan