skip to Main Content
Hubungan Dugong Dengan Ekosistem Lamun

Hubungan Dugong dengan Ekosistem Lamun

Dugong merupakan salah satu mamalia yang hidup di laut yang termasuk ke dalam keluarga Dugongidae dan satu-satumya spesies dari keluarga tersebut yang masih ada. Di Indonesia sendiri, masyarakat biasa memanggilnya sebagai duyung. Berikut adalah klasifikasi dari Dugong :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Sirenia
Famili : Dungongidae
Genus : Dugong
Spesies : Dugong dugon
(WoRMS 2020).

Gambar 1. Dugong dugon (WoRMS, 2020)

Habitat yang dimiliki Dugong umumnya meliputi wilayah perairan tropis dan subtropis. Dugong terdistribusi hampir di 37 negara di beberapa benua. Sedangkan di Indonesia, Dugong dapat ditemukan di beberapa daerah seperti Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera, Timor Timur, Maluku, barat laut dan tenggara Jawa, pantai selatan Jawa Timur dan pantai selatan Kalimantan.

Gambar 2. Wilayah sebaran Dugong (Marsh et al., 2002)

Dugong memiliki kaitan erat dengan ekosistem lamun. Dugong merupakan hewan pemakan tumbuhan atau herbivora. Sebagai herbivora Dugong sering mengonsumsi lamun sebagai makanan utamanya. Umumnya spesies lamun yang dikonsumsi Dugong berasal dari genus Halodule, Halophila, Syringodium dan Cymodocea. Lamun menyediakan kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh Dugong.

Keberadaan Dugong di suatu perairan dapat menjadi indikator kondisi ekosistem lamun di perairan tersebut. Hal tersebut dibuktikan oleh Nugraha et al. (2019) dalam studinya yang dilakukan di Pulau Liki bahwa kondisi ekosistem lamun yang masih bagus dengan persentase tutuan lamun > 60% dan rendahnya aktivitas manusia menyebabkan Dugong sering muncul di wilayah tersebut. Selain itu, Marsh et al. (2018) menyatakan bahwa kegiatan menggali dari Dugong menyebabkan terangkatnya substrat, bagian lamun mengeluarkan karbon organik terlarut dan mencampur beberapa detritus dengan sedimen sehingga menghasilkan substrat yang baik untuk fiksasi nitrogen yang memungkinkan dapat meningkatkan produktivitas lamun itu sendiri. Terdapat dampak lain dari kegiatan makan Dugong terhadap ekosistem lamun berdasarkan beberapa aspek antara lain, struktur dan komposisi komunitas, komposisi kimia, dinamika poulasi lamun serta hewan bentik pada ekosistem lamun.

Gambar 3. Diagram interaksi antara Dugong dan lamun (Marsh et al., 2018)

Meski Dugong sudah banyak dikenal masyarakat tetapi kesadaran masyarakat mengenai keberadaannya masih sangat kurang. Berdasarkan IUCN Dugong tergolong hewan yang rentan punah sehingga perlu dilakukan upaya pelestarian. Untuk melestarikan keberadaan Dugong tentu juga diikuti dengan adanya upaya pelestarian ekosistem lamun itu sendiri karena telah diketahui bahwa Dugong sangat bergantung dengan ekosistem lamun. Selain itu, Indonesia telah mempunyai peraturan sebagai upaya perlindungan terhadap Dugong yaitu UU Nomor 7 Tahun 1999 dan Permen LHK Nomor 20 Tahun 2018. Indonesia juga ikut serta dalam Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) tahun 2017 bersama beberapa negara lain seperti Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Sri Lanka, Timor Leste, dan Vanuatu. Kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap Dugong dan ekosistem lamun.

DAFTAR PUSTAKA

KKP.2020. https://kkp.go.id/

Marsh, H. et al. 2002. Dugong: Status Reports and Actions Plans for Countries and Territories. https://portals.iucn.org/

Marsh, H., A. Grech, dan K. McMahon. 2018. Dugongs: Seagrass Community Specialists. Seagrasses of Australia, 629–661. doi:10.1007/978-3-319-71354 0_19

Nugraha A. H. et al. 2019. Relationship of Distribution Seagrass Species with Dugong (Dugong dugon) Sighting at Liki Island-Papua. Omni-Akuatika, 15(2): 92-97.

WoRMS. 2020. Dugong dugon (Müller, 1776). http://www.marinespecies.org.

SEACREST? LAMUN PORA!

Download Versi PDF

Tinggalkan Balasan