skip to Main Content
Adaptasi Lamun Dalam Lingkungan Bersalinitas

Adaptasi Lamun dalam Lingkungan Bersalinitas

Adaptasi diperlukan oleh suatu organisme untuk bertahan hidup dan melestarikan spesiesnya. Lamun juga melakukan adaptasi untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Lamun memiliki kemampuan adaptasi dalam lingkungan laut baik secara morfologis maupun fisiologis. Menurut Azkab (2000), lamun dapat beradaptasi di lingkungan laut dengan kemampuannya hidup di lingkungan bersalinitas, dapat hidup normal dalam keadaan terbenam, memiliki sistem perakaran yang baik, mampu berkembang biak secara generatif dalam kondisi terbenam dan mampu berkompetisi dengan organisme lain.

Salah satu ciri lingkungan laut yang dapat mempengaruhi pertumbuhan lamun adalah salinitas. Salinitas sendiri merupakan kadar garam yang terlarut dalam air. Biasanya lamun dapat tumbuh secara optimal pada salinitas sekitar 20-35 ‰. Perubahan yang signifikan dari salinitas di perairan dapat berdampak buruk bagi ekosistem padang lamun. Touchette (2007) dalam studinya mengatakan bahwa kondisi hiper- atau hipoosmotik mengakibatkan pengurangan kegiatan fotosintesis pada lamun. Meskipun begitu tiap spesies lamun memiliki kemampuan toleransi yang berbeda satu sama lain terhadap salinitas.

Selama tahap adaptasi di lingkungan laut, lamun kemungkinan telah mengalami kehilangan atau kekurangan beberapa gen dan modifikasi di bagian tubuhnya seperti dinding sel. Dinding sel lamun diketahui merupakan hasil kombinasi dari struktur polisakarida yang dimiliki makroalga dan tanaman berbunga darat. Lamun juga memiliki dinding sel yang kaku dimana dapat membatasi jumlah air yang masuk selama tekanan hipoosmotik terjadi. Selain itu, kandungan karbohidrat pada lamun dapat membantu lamun beradaptasi di lingkungan bersalinitas dengan cara mengkonversi karbohidrat menjadi senyawa organik lain yang lebih memudahkan dalam penyesuaian osmotik lamun. Terdapat keistimewaan lain pada dinding sel lamun seperti yang dimiliki oleh lamun Zoestera marina.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pfeifer et al. (2020), spesies lamun Zoestera marina memiliki kandungan glycoprotein pada dinding selnya yang dinamakan dengan Arabinogalactan-proteins (AGPs). AGPs dapat ditemukan di tanaman darat sebagai matriks ekstraseluler yang memiliki fungsi tertentu antara lain, berperan dalam pertumbuhan sel proliferasi sel, formasi pola reproduksi dan interaksi tanaman dengan mikroba. Dalam beberapa pengamatan, akumulasi AGPs berfungsi membantu osmoregulasi pada tanaman. Hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor dalam evolusi lamun dimana yang sebelumnya merupakan tanaman darat yang kemudian dapat tumbuh di ekosistem laut pesisir dengan salinitas cukup tinggi yang dapat merusak pertumbuhan dan perkembangan tanaman baik melalui tekanan air karena tekanan osmotik dan penurunan ketersediaan air. Sayangnya, AGPs tersebut belum dibuktikan keberadaanya pada semua spesies lamun hingga saat ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Azkab, M. H. 2000. Struktur dan Fungsi pada Ekosistem Lamun. Oseana, 25(3): 9-17.

Pfeifer, L. T. Shafee, K. L. Johnson, A. Bacic, dan B. Classen. 2020. Arabinogalactan-proteins of Zostera marina L. Contain Unique Glycan Structures and Provide Insight Into Adaption Processes to Saline Environments. Scientific Reports, 10: 8232. https://doi.org/10.1038/s41598 020-65135-5

Saputro, M. A., R. Ario dan I. Ritniasih. 2018. Sebaran Jenis Lamun di Perairan Pulau Lirang Maluku Barat Daya Provinsi Maluku. Journal of Marine Research, 7(2) : 97-105.

Touchette, B. W. 2007. Seagrass-salinity interactions: Physiological Mechanisms Used By Submersed Marine Angiosperms For A Life At Sea. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, 350:194–215.

SEACREST? LAMUN PORA!

Download Versi PDF

Tinggalkan Balasan