skip to Main Content

Ciri-ciri Kondisi Padang Lamun di Pantai Utara dan Pantai Selatan Pulau Jawa

Lamun (seagrass) dikenal dengan tumbuhan tingkat tinggi yang dapat dibedakan akar, batang dan daunnya serta termasuk tumbuhan yang dapat berbunga (angiospermae) dengan dapat hidup dan beradap tasi di dalam perairan (Runtuboi et al.,2018). Pola hidup lamun biasanya secara berkelompok membentuk suatu hamparan yang dikenal dengan padang lamun. Padang lamun menjadi ekosistem yang berada di perairan laut dangkal dengan adanya tumbuhan lamun yang telah melakukan adaptasi terhadap air bersalinitas. Tumbuhan lamun dapat bertahan hidup dari hempasan gelombang dan arus. Lamun dapat menjadi ekosistem yang berfungsi untuk tempat pemijahan, mencari makan dan berlindung berbagai biota di sekitarnya termasuk ikan-ikan.

Menurut Hidayat et al. (2018), terdapat banyak sekali jenis lamun yang tersebar di seluruh dunia. Diperkirakan ada sekitar 60 jenis lamun. Jenis lamun yang terdapat di Indonesia ada sebanyak 12 jenis antara lain Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Halophila spinulosa, Halophila minor, Halophila decipiens, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Thalassodendron ciliatum, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata (dahulu Cymodocea serrulata), Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides. Spesies lamun yang baru saja ditemukan ada Halophila sulawesii. Total jenis lamun di Indonesia sekarang ini menjadi 13 spesies lamun. Jenis-jenis lamun ini dapat ditemukan di perairan laut dengan kedalaman dangkal bersubstrat lumpur atau pasir. Komposisi jenis lamun dapat menjadi indikator jumlah tegakan pada setiap jenis lamun yang terdapat dalam 1 unit area yang diamati.

Artikel kali ini akan membahas ciri-ciri dari kondisi padang lamun yang ada di Pantai Utara dan Pantai Selatan Pulau Jawa. Kedua lokasi pantai tersebut memiliki karakteristik pantai yang berbeda di mana di Pantai Utara memiliki pantai yang cenderung landai dan memiliki gelombang serta arus yang cenderung tenang. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi pantai di Pantai Selatan yang memiliki pantai yang cenderung curam dan memiliki gelombang serta arus yang cenderung besar.

A. Pantai Utara
Lamun yang ditemukan di perairan Pantai Prawean, Jepara terdapat empat spesies, yakni Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Oceana serrulata dan Cymodocea rotundata. Jenis lamun yang paling dominan di perairan tersebut adalah Oceana serrulata. Karakteristik Pantai Prawean, Jepara memiliki arus dan gelombang yang cukup tenang karena berada di wilayah Pantai Utara Jawa, serta terdapat Pulau Panjang yang berada tepat di sebrang lokasi tersebut. Pantai Prawean memiliki pantai yang landai, dan kedalaman yang berkisar antara 0,5–1,5 meter. Menurut pengamatan Baeti et al. (2019), nilai kerapatan lamun di Pantai Prawean pada Maret 2019, kerapatan lamun jenis Oceana serrulata bernilai sebesar 184–592 individu/m2. Kerapatan lamun jenis Enhalus acoroides bernilai 12 individu/m2 dan Cymodocea rotundata bernilai 80–100 individu/m2. Persentase tutupan (% cover) lamun tiap jenis pada lokasi pengamatan pada Maret 2019, nilai persentase tutupan lamun yakni Enhalus acoroides sebesar 4,2%, Oceana serrulata sebesar 60,2%, serta Cymodocea rotundata sebesar 0,5%.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Hitalessy et al. (2015), pada perairan Pesisir Desa Banjarwati, Lamongan, padang lamun di sana berasosiasi dengan beberapa spesies gastropoda. Nilai kepadatan dan frekuensi kehadiran tertinggi spesies gastropoda di Perairan Pesisir Desa Banjarwati, Lamongan pada ketiga stasiun pengamatan didominasi oleh spesies Strombus fasciatus, dengan nilai penting sebesar 54,551. Sedangkan untuk spesies lamun dengan nilai kepadatan, kelimpahan dan frekuensi kehadiran tertinggi didominasi oleh spesies Cymodocea rotundata, dengan nilai penting yang mencapai 70,121. Berdasarkan nilai indeks keragaman (H’) dan keserasian spesies (e), ekosistem lamun diperairan pesisir desa Banjarwati Lamongan memiliki keragaman spesies gastropoda yang sedang dan menunjukan tidak adanya dominansi spesies (D).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Monita et al. (2021), pada perairan Teluk Awur, Jepara, komposisi jenis lamun tertinggi adalah Thalassia hemprichii dan terendah adalah Cymodocea rotundata. Kerapatan tertinggi yaitu 196,52 ind/m2 dengan jenis lamun Thalassia hemprichii. Secara ekologi, tidak terdapat spesies yang sangat mendominansi dalam komunitas lamun, yang membuat kestabilan komunitas terjaga. Kondisi kesehatan ekosistem lamun di Perairan Teluk Awur digolongkan sebagai kurang sehat dengan persentase penutupan lamun yang hanya sebesar 41,48%, persentase penutupan makroalga sebesar 14,14% dan persentase penutupan epifit sebesar 34,09%. Kondisi perairan (suhu, salinitas, oksigen terlarut (DO), pH, kecerahan, arus, kadar nitrat, kadar fosfat dan kadar bahan organik) dengan substrat berupa pasir dan pasir berlumpur masih tergolong baik dan cocok untuk pertumbuhan lamun.

B. Pantai Selatan
Pantai Pangandaran terletak di selatan Provinsi Jawa Barat. Di sini, ditemukan tiga jenis lamun yaitu Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, dan Halodule pinifolia Perbedaan karakteristik morfologi yang menonjol dari ketiga jenis lamun tersebut terdapat pada ujung daun. Cymodocea rotundata memiliki ujung daun membulat, kadang melekuk di bagian tengahnya, Thalassia hemprichii memiliki ujung daun membulat, halus, pinggiran rapi. Halodule pinifolia memiliki ujung daun membulat, terdapat bentuk seperti gigi di ujung samping, dan terdapat satu urat di tengah berwarna coklat kehitaman. Berdasarka pengamatan yang dilakukan Setyawati et al. (2018), Thalassia hemprichii, hidup di substrat yang berlumpur, berpasir dan berpuing dari karang mati. Besar tutupan mencapai nilai tertinggi yakni sebesar 48,14% dibandingkan jenis lamun lainnya.
Rata-rata tutupan lamun di sisi timur Pantai Pangandaran bernilai 86,66% dengan tutupan terbesar oleh spesies lamun Halodule pinifolia sebesar 76,25%, sedangkan di sisi barat Pantai Pangandaran bernilai 7,39% dengan penutupan terbesar oleh spesies lamun Thalassia hemprichii sebesar 11,67%. Banyaknya wisatawan yang mengunjungi pantai dan banyak pula aktivitas yang dilakukan di pantai membuat padang lamun terinjak-injak yang membuat pertumbuhan padang lamun terganggu. Pertumbuhan padang lamun di pantai sisi timur lebih baik dari yang pantai sisi barat karena pantai barat memiliki karakteristik pantai yang lebih landai, sehingga lebih diminati wisatawan (Irawan, 2010).

Klik untuk membaca artikel selengkapnya

Tinggalkan Balasan