skip to Main Content

Pengaruh dan Hubungan Dugong Terhadap Ekosistem Lamun

Di darat kita memiliki ekosistem padang rumput sebagai tempat alami dimana makhluk hidup tinggal dan mencari makan. Herbivora seperti gajah, rusa, banteng, kelinci dan hewan memamah biak lainnya mengkonsumsi rumput sebagai makanan utamanya. Ekosistem padang rumput secara alami dapat ditemukan diseluruh permukaan bumi tak terkecuali bagi permukaan bumi yang tertutup perairan. Tidak dengan nama yang sama, namun kita mengenalnya dengan “padang lamun”. Lamun atau biasa dikenal sebagai seagrass merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang diketahui paling sukses menjajah lautan. Selayaknya padang rumput di darat, lamun mampu tumbuh membentuk hamparan yang kemudian dinamakan sebagai padang lamun. Padang lamun menyediakan tempat tinggal bagi berbagai macam biota laut meliputi ikan, krustasea, reptil, hingga mamalia.

Mamalia laut yang diketahui berhabitat di padang lamun adalah dugong. Dugong masuk ke dalam ordo sirenia atau biasa dikenal dengan sapi laut. Meskipun memiliki julukan sapi laut namun dugong memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan gajah (Irwin dan Arnason, 1994). Seperti halnya herbivora darat yang merumput, dugong juga memiliki kebiasaan merumput di padang lamun. Keberadaan dugong dapat diketahui dengan adanya jejak makan (feeding trail) pada hamparan padang lamun. Lamun menjadi sumber makanan utama bagi dugong di perairan. Meskipun dugong mengkonsumsi beberapa jenis invertebrata dan alga namun peran lamun sebagai sumber makanannya tidak tergantikan. Keberagaman jenis lamun yang tinggi di hamparan padang lamun menjadikan dugong sebagai spesies yang selektif terhadap makanannya. Dugong cenderung memilih lamun dengan kadar nitrogen dan zat tepung yang tinggi serta rendah serat. Kemampuan dugong dalam mencerna tumbuhan tidak sebaik kemampuan mamalia darat yang menjadikannya lebih memilih lamun berserat rendah seperti jenis Halodule dan Halophila (Lanyon and Sanson, 2006). Ketersediaan jenis lamun yang terbatas akan mempengaruhi preferensi dugong dalam memilih makananya yang mana dugong tidak memiliki pilihan lain selain mengkonsumsi lamun jenis yang ada.

Dugong dewasa mengkonsumsi lamun sekitar 7% dari berat tubuh setiap harinya (Marsh et al.,2011). Banyaknya lamun yang dikonsumsi oleh dugong tidak menjadikan kondisi lamun terancam. Dugong mengkonsumsi lamun dengan dua cara yaitu pertama dengan menggali sedimen untuk mendapatkan daun hingga akar lamun, dan yang kedua dengan hanya memotong daun lamun. Lamun dapat tumbuh kembali apabila akarnya tetap tertanam di substrat. Kondisi ini dapat mempengaruhi kandungan nutrisi pada lamun tersebut. Aragones et al.(2006), dalam studinya mengenai respon lamun terhadap aktivitas merumput dugong menyatakan bahwa lamun yang tumbuh kembali setelah daunnya termakan oleh dugong memiliki kandungan nitrogen yang lebih tinggi dan serat yang lebih rendah dari sebelumnya. Hal ini dapat diartikan bahwa kualtias lamun sebagai pakan dugong akan meningkat. Aktivitas merumput dugong berpotensi meningkatkan keragaman dalam komunitas lamun. Biji lamun yang ikut terkonsumsi dugong dapat tersebar di substrat melalui fesesnya namun persebaran dengan cara ini hanya terjadi pada jenis lamun dengan biji yang keras (McMahon et al.,2014).

Status konservasi dugong menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) masuk kedalam daftar merah, Hal ini dapat disebabkan oleh rusaknya ekosistem lamun sebagai habitat dari dugong tersebut. Menurut Nontji (2010) dari luas total padang lamun di peraian Indonesia mengalami penyusutan sekitar 30-40%. Hal ini diperparah oleh kegiatan manusia seperti pembangunan wilayah pesisir dan aktivitas pelayaran. Kesadaran masyarakat dan upaya konservasi ekosistem lamun perlu ditingkatkan guna menyelamatkan padang lamun sebagai habitat alami dugong.

REFERENSI

Aragones, L.V., I. R. Lawler, W.J. Foley. 2006. Dugong Grazing And Turtle Cropping: Grazing Optimization In Tropical Seagrass Systems?.Oecologia., 149: 635–647.

Irwin, D. M and Árnason, Ú. 1994. Cytochromeb Gene Of Marine Mammals: Phylogeny And Evolution. Journal of Mammalian Evolution., 2(1): 37-55.

Lanyon, J. M and G.D.Sanson. 2006. Degenerate Dentition Of The Dugong (Dugong Dugon), Orwhy Agrazer Does Not Need Teeth: Morphology, Occlusion And Wear Of Mouthparts. J Zool., 268 (1): 33–152.

Marsh,H.,T.J. O’Shea and J.E. Reyholds. 2011. Ecology And Conservation Of The Sirenia, Conservation Biology 18. Cambridge University Press, Cambridge.521 p.

McMahon, K.,K. J. V. Dijk, and R. L. Montoya. 2014. The Movement Ecology Of Seagrasses. Proc Roy Soc B., 281 (1) :1795–2014.

Nontji, A. 2010. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta: 372 hlm.

Klik ini untuk menuju artkel asli

Tinggalkan Balasan