Dampak Logam Berat terhadap Ekosistem Lamun
Ekosistem lamun banyak dikenal sebagai ekosistem yang memiliki banyak manfaat bagi wilayah pesisir. Secara ekologis padang lamun berperan sebagai daerah asuhan, tempat mencari makan dan tempat berlindung biota-biota laut. Di wilayah perairan, lamun juga berfungsi sebagai bioindikator pencemaran laut (Bidayani et al., 2016).
Namun, akhir-akhir ini banyak isu mengenai pencemaran logam berat terhadap ekosistem laut, terutama ekosistem lamun. Banyaknya aktivitas manusia seperti pertanian, pembangunan, pariwisata, pengerukan, tumpahan minyak dan kegiatan para nelayan menjadi faktor-faktor ditemukannya logam berat di perairan (Istiqomahani et al., 2020). Pemanasan global menjadi salah satu faktor peningkatan logam yang menjadikan akumulasinya tinggi terutama bagi produsen di laut (Arisekar et al., 2021). Ditemukannya logam berat ini juga dipengaruhi oleh pH, air, potensi redoks, sedimen, bahan organik terlarut, suhu, salinitas, kandungan organik dan konsentrasi logam lainnya (Aljahdali dan Abdullahi, 2020). Logam pada umumnya memiliki sifat toksik yang berbahaya bagi organisme laut walaupun dalam pemanfaatannya diperlukan dalam jumlah yang kecil (Supriyantini et al., 2016). Contoh logam berat yang sering ditemui di wilayah perairan salah satunya logam kadmium (Cd). Hal tersebut diketahui karena logam Cd memiliki karakteristik bioavailabilitas dan bioakumulasi yang tinggi ke dalam tubuh organisme dan tumbuhan.
Menurut Falah et al. (2020) bahwa logam yang terdapat di perairan akan mengalami proses absorpsi, adsorbsi dan pengendapan yang dilakukan oleh lamun. Logam berat tersebut akan terakumulasi dan paling banyak ditemui di bagian daun dan akar lamun. Logam berat yang mengendap akan diserap oleh akar melalui pengambilan nutrien dari sedimen. Logam berat tersebut akan terakumulasi pada jaringan eksodermis dan endodermis (Aphrodita et al., 2022). Banyaknya kadar logam berat dapat diketahui dari umur daun. Semakin tua umur daun lamun, maka semakin banyak kadar logam berat yang terdapat didalamnya. Sifat logam berat yang persisten akan menciptakan potensi akumulasi polutan di dalam sedimen dan akan menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem lamun. Konsentrasi logam yang tinggi dapat menyebabkan beberapa akibat buruk bagi lamun, seperti mengganggu sistem reproduksi, kerusakan pada kloroplas dan kerusakan pada sel-sel jaringan lainnya yang mengakibatkan pertumbuhan lamun terhambat (Natsir et al., 2020). Terhambatnya pertumbuhan lamun tentu akan mengganggu keseimbangan pada ekosistem tersebut, terutama biota-biota yang menjadikan lamun sebagai sumber makanan (Haryanti dan Nana, 2020). Sama halnya dengan lamun, logam berat yang terkandung pada biota-biota lainnya akan mengganggu reproduksi biota tersebut.
